sudah sewindu

dinginnya pagar besi yang aku sentuh malam ini, cukup membuat lenganku merinding. ujung runcingnya yang basah, membuat sisa tetesan air hujan yang tadi terjebak disana menetes tipis di ujung jariku.

tapi aku tetap menyentuhnya, sengaja menyentuhnya. sambil berjalan melewati pagar-pagar lain di malam dingin tanpa bulan ini.

aku tau, ini bukan arah pulangku. bukan pula arah pergiku. aku hanya melangkah, toh tak seorangpun yang melarangku. bisa melarangku. mau melarangku.

jalanan malam ini pun terasa terlalu gelap untuk kota ini. untuk pekerja di malam ini. untuk yang terjaga di malam ini. atau mungkin untukku. untuk aku melanjutkan langkah-langkah ketidakpastianku.

oh, bukan. bukan ketidakpastian. aku yakin pasti meski aku tak tahu apapun. aku yakin aku akan tahu, mesti mungkin sedikit tak pasti. yang aku tau pasti, aku sekarang masih tetap melanjutkan langkahku.

sekarang kabut mulai turun dari gunung. membasahi lampu jalanan yang memang sudah basah. menghinggapi jendela yang dingin. diam di dedaunan tak bertuan. lalu dengan lincah menetes dingin di keningku. dari kening, sekarang mulai membasahi pipiku. dan ketika tetesannya membasahi leherku, seketika leherku bereaksi. hanya sedikit tengokan, tak lebih. tapi dari tengokan itu, layaknya kelompok tentara yang dikomandoi jendralnya, seketika langkahku pun turut terhenti. langsung terhenti. tepat terhenti di depan bangunan tua ini.

ah, saraf-sarafku mati. mataku terpana. kakiku membeku. dan tubuhku hanya pasrah diselimuti angin malam yang menembus sumsum tulang belakang.

bukan bangunan yang besar kawan, pula mewah. hanya rumah tua dengan taman yang sudah tak terawat. hanya rumah tua dengan kaca yang retak dan dinding yang kusam. hanya rumah tua tanpa penghuni. tanpa penghuni.

oh ya, sel-sel otakku mulai bekerja. membentuk jaringan yang memanggil kenanganku di masa lalu. oh ya, rumah ini bukan tanpa penghuni. rumah ini hanya sudah tak berpenghuni. tepat sewindu sudah tak berpenghuni. oh ya, sudah sewindu.

dan nyatanya,sudah sewindu langkahku tak terhenti disini, terhenti oleh kehadiranmu. sudah sewindu. sudah sewindu mataku tak terpana, terpana oleh sosokmu. sudah sewindu. sudah sewindu saraf-saraf ini tak mati, mati takberdaya dihadapanmu. sudah sewindu. sudah sewindu jiwa ini kehilangan candunya yang selalu setia ada di rumah dihadapanku ini.  sudah sewindu. sudah sewindu, aku… kamu… sudah sewindu. sudah sewindu sayang, sudah sewindu…

huff. mungkin memang harus begini, harus seperti malam ini. mau apalagi, toh Dia yang menentukan segalanya, Dia yang berhak menentukan segalanya. bahkan hidupku dalam sewindu ini, terhenti juga dalam semalam ini. mungkin memang sudah saatnya. mungkin sudah seharusnya.

langkahku mulai mencair. saraf-sarafku kembali hidup. dan tubuhku mulai bereaksi dengan angin malam.

aku pun mulai melangkah pergi. tanpa jawaban pasti, meskipun aku yakin pasti ada jawaban.

18-1-12

aku, laptop, dan angin malam dari balik jendela kamarku :)