cerpen perdana (untitled)
Sore ini berlangsung biasa, seperti akhir pekan biasanya. Aku terduduk di depan rumah belajar dirian guruku, di temani sebatang rokok lintingan dan kopi hitam pahit favoritku. Kelas siang untuk sabtu ini telah usai, mereka telah pulang. Tapi aku masih terduduk untuk menunggu ditemani angin sore yang melewati rambut gondrongku dengan halus.
Tadi pagi HP-ku berdering. Pesan singkat muncul di layarnya. Soleh, itu namanya. Dia juga seorang murid di rumah belajar ini. kini ia sedang berjuang untuk lulus kejar paket B, agar dia bisa meneruskan SMA favorit yang ia idamkan. Dan untuk itu pula, dia memintaku untuk menunggunya hingga sore ini agar ia yang bekerja di pagi hari tetap bisa belajar hari ini.
Dari pintu ini, akhirnya aku melihat tubuh tinggi kurusnya muncul dari belokan jalan terdekat. Membawa tas selempang kecil kusamnya, ia juga membawa amplop coklat. Tak lama kemudian, dia muncul dihadapanku. Tapi, ada sesuatu yang berbeda, sangat tidak seperti biasanya. Raut mukanya yang biasa ceria, kini berbeda. Kegembiaraan yang biasa ia tularkan kini menguap entah kemana. Sesampainya dihadapanku tiba-tiba dia melemparkan amplop tadi
“pak, apa saya salah kalau saya berdoa agar bisa mengganti orang tua saya?” sahutnya tiba-tiba dengan nada suara tinggi.
Aku tersentak sambil berusaha tetap tenang. “istigfar leh, istigfar… kenapa ?” ucapku sambil berusaha membujuknya untuk duduk. Tapi dia menolaknya dan hanya bersungut sambil menunjuk amplop yang dibawanya tadi. Aku beruasaha membukanya. Aku melihat kop surat sekolah negri favorit di kota ini. sedikit kebawah, aku melihat nama Abdurahman Soleh, namanya. Rupanya proposal beasiswa untuk masuk sekolah bertaraf international yang secara diam-diam dia ajukan. Semakin ke bawah barulah aku mengerti. Rupanya tesnya untuk mendapatkan beasiswa tidak mampu ini gagal. Tes untuk golongan ini memang terbatas. Dan hanya anak-anak yang secara ajaib terlahir jenius di kalangan tidak mampulah yang mampu mendapatkannya. Tak bisa berkata-kata, aku hanya mampu menatapnya. Belum sampai kata meluncur di lidahku, dia sudah memotongnya.
“aku merasa dizalimi pak. aku memang gagal tes tertulis untuk golongan tidak mampu ini. Aku memang tidak jenius, tapi emang seberapa mungkin anak dari tukang sapu mesjid sepertiku bisa dapat gizi cukup untuk perkembangan otaknya? Kalaupun aku memang kalah pintar dari mereka yang anak konglomerat, apa beban kita sama? Apa mereka kerja setiap pagi sepertiku? Apa mereka berjuang mendapatkan buku sama susahnya sepertiku? Apa mereka melakukan sesuatu sehingga mereka bisa dapet les yang baik, buku yang layak, tempat belajar yang nyaman, gizi yang cukup, waktu yang luang, kecuali mereka memang kebetulan dilahirkan dari keluarga yang mampu?” air mata tampak mulai menetes di ujung pelupuk matanya. Sedikit terisak, dia melanjutkan
“kenapa beasiswa hanya bagi orang miskin yang pintar? Apa dengan miskin dan bodohnya kami tidak bisa berguna bagi masyarakat? Apa dengan miskin dan bodohnya kami pemerintah melepaskan tanggung jawabnya untuk mencerdaskan kami? Untuk menjamin masa depan kami? Apa kami pernah minta untuk terlahir miskin dan bodoh?? Apa saya bisa mengganti orang tua saya ??”
Air matanya pun mengalir deras, seluruh beban dia keluarkan sekarang. Aku hanya bisa merangkulnya pelan. Entah siapa yang bisa disalahkan. Pemerintah yang kurang meanggarkan dana bagi pendidikan kah? Pejabat yang gagal mendistribusikan dan menanggung amanahnya kah? Atau bahkan para keluarga orang-orang mampu nan cerdas yang mengambil jatah beasiswa tersisa yang tidak bisa dibagikan kepada orang macam soleh karena ketidakpintarannya ? semua terlalu rumit. Bahkan bagiku, seorang pemuda yang mempertaruhkan hidupnya di dunia pendidikan ini.
-cerpen perdana, dibuat sekejap. tolong banget kritik dan masukannya ^^