mam …
malam ini sepi, sepi sekali. bahkan terlalu sepi buatku, seorang individualis yang baik. padahal malam belum larut. tapi detak jarum detik jam dan hentakan keyboard pun gagal memecah kesunyian malam ini.
pandanganku jatuh ke foto itu. foto seorang balita kecil memegang telefon palsu, menekan tombol telefon palsu pula, sambil tersenyum ke arah fotografer. oh, atau mungkin ke arah ibuku. karena dari ceritanya, sejak kecil aku memang sulit diam kecuali di hadapannya.
hari ini layar laptopku mungkin sudah penuh oleh ucapan manis tentang makhluk spesial ini. aku yang apatis terhadap perayaan seperti ini pun tadinya tampak akan melewatkan hari ini begitu saja. tanpa ucapan, tanpa rangkaian kata. tapi sejenak melihat foto diriku tadi, hati saya bergetar, bersama banyak rangkaian memori dari masa lalu.
aku kecil tidak menghabiskan hari mingguku untuk nonton kartun, tapi diantar ibuku yang merelakan waktu liburnya menuju PAS. disana aku belajar,ngaji,bermain,dan berkenalan banyak dengan anak2 SD lain. disana pula lah karakter dasarku yang sekarang terbangun.
aku kecil ga pernah tidur siang. sore aku habiskan untuk berbagai kegiatan. renang, les, terapi, semuanya ibuku yang setia mengantar. padahal beliau sendiri masih letih sehabis bekerja.
aku kecil beda dengan kakak-kakakku waktu seusiaku. aku tidak berprestasi. rankingku buruk. ngaji pun paling sering kabur. padahal, ketika malam datang, aku yang paling sering menegtuk kamarnya, sekedar minta tidur dipelukannya malam itu
ah, sekarang pun ga jauh berbeda adannya. aku yang katanya sudah dewasa ini, hanya mampu berusaha untuk menutupi ketergantunganku kepadanya. tapi, ibuku tetap selalu tau aku letih meski tanpa keringat mengalir. tau aku sedih, meski tanpa air mata menetes. tau aku butuh nasihat, tanpa perlu aku bercerita.
pada akhirnya, aku jatuh juga di romantisme ini. romantisme pada orang yang seumur hidup paling kita sayang. roman klise yang selalu dalam hakikatnya kita jiwai.
aku memang hidup untukMu, Allah. tapi tolong, untuk setiap ibadahku tolong sisihkan kebaikan2 untuknya. karena setiap detik kebaikan dan ibadahku, adalah dari keringat dan arahan ibuku.
mam, maaf ya seinget hanif hanif emang belum pernah bilang langsung, atau mungkin ga akan pernah berani bilang.
tapi mam, hanif sayang mamah ..